Kamis, 07 Februari 2013

MEMAHAMI TENTANG SAKRATUL MAUT



SAKRATULMAUT







KETAKJUBAN TERHADAP SAKRATULMAUT

Yang dibahas dalam pasal ini adalah bagaimana memperoleh keselamatan tatkala sakratulmaut. Syarat apa yang di perlukan untuk menghadapi sakratulmaut? Ada empat syarat. Yaitu ikhlas, rela pada hukum Allah, merasa tidak memiliki, dan berserah diri pada kehendak Allah.

  1. IKHLAS / RELA [RIDHO]
Ikhlas dalam menghadapi sekarat itu ya menerima sekarat atas kemauan sendiri. Tanpa merasa terpaksa. Sadar bahwa sekarat itu di tetapkan oleh Tuhan untuk hamba-Nya. Jadi, sekarat bukan sesuatu yang harus di hindari. Tapi, juga bukan untuk di tantang. Yaitu mereka yang minta di matikan.
Kita memang harus rela terhadap Tuhan yang menguasai hidup kita. Sebelum manusia mampu memberdayakan fungsi jasmani dan rohaninya, Tuhan telah menempatkan berbagai organ yang kerjanya tidak kita kendalikan. Jantung, paru-paru, hati, limpa, usus, dan ginjal bekerja secara otomatis. Sistem peredaran darah, pernapasan, dan pembuangan bekerja di luar kendali kita. Jika pada mulanya manusia rela di atur di luar kesadarannya, maka pada akhirnya manusia juga harus rela di atur berdasarkan kesadarannya. Kerelaan sejati adalah kerelaan yang tumbuh dari dalam. Dari kesadaran sendiri. Bukan karena bujuk rayu dari siapa pun. Atau, dari mana pun datangnya. Betul-betul kerelaan yang tumbuh dari keyakinan. Ikhlas atau rela sebenarnya merupakan pekerjaan hati yang paling pokok.
Mengenai kerelaan dalam mengahadapi kematian ini, telah di jelaskan dalam kitabul mukmin (Layang Mu’min), sebagai berikut :
SEKARAT TANANA NYAMUR, JA MELU YEN SIRA WEDI, LAN JA MẼLU- MẼLU ALLAH, IKU ARAN SAKARATIL RUH ILAPI MATI TANANA URIP MATI MATI URIP”.
Artinya :
Penderitaan sekarat itu tidak ada. Jangan takut menghadapinya. Dan, jangan ikut-ikutan takut bertemu Allah. Perasaan takut itulah yang disebut sekarat. Roh Ilafi tidak terkena kematian. Hidup mati, mati hidup.
Dipertegas dalam Q.S. Fushilat : 30 :
SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG MENYATAKAN [RABB KAMI ADALAH ALLAH], DAN MEREKA MENEGUHKAN PENDIRIAN MEREKA; MAKA MALAIKAT MENDATANGI DAN BERKATA “JANGANLAH KAMU MERASA TAKUT DAN SEDIH, DAN KAMU DI GEMBIRAKAN DENGAN KABAR BAHWA KALIAN MENDAPAT TAMAN YANG DI JANJIKAN”.
Ada dasarnya bahwa dalam menghadapi sakratulmaut, seseorang tak boleh khawatir. Tak boleh takut. Tak boleh bersedih hati. Asal jiwa ini tetap teguh pendirian dalam menjungjung kebenaran, taman yang luas terbentang dihadapannya. Mengapa mesti takut? Malaikat-malaikat yang disebut dalam Al-qur’an akan memberikan perlindungan. Atau, saudara empat (sedulur papat) yang ghaib, akan turut serta menjaga Sang Diri dalam melanjutkan perjalanannya. Bahkan dalam ayat berikutnya, Yaitu ayat 31, disebutkan bahwa para malaikat itu menyatakan sebagai pelindung-pelindung orang yang mantap dalam keimanannya, di dunia dan di akhirat.


  1. RELA PADA HUKUM ALLAH
Banyak orang Islam yang menyempitkan makna “hukum Allah”. Hanya di mengerti sebagai syariat. Atau, sebatas hukum agama. Dalam menyambut sakratulmaut, hukum Allah itu ya kodrat. Ketetapan Allah yang digelar di alam raya ini. Manusia tumbuh dari bayi menjadi orang tua, itu salah satu hukum Allah. Karena itu, tidak usah membaca kitab untuk bisa mengetahui hukum Allah.
Kita akan mengetahui hukum Allah. Perhatikanlah hukum Allah pada manusia. Ada yang menjadi perempuan. Laki-laki. Yang perempuan mempunyai rahim untuk melahirkan. Kulitnya lebih halus daripada laki-laki. Yang laki-laki bisa berkumis, atau berjanggut. Secara normal, badannya lebih kekar. Dan, salah satu dari sekian banyaknya hukum Allah itu, antara lain “Kematian”. Tanpa sekolah pun orang mengetahui bahwa orang hidup akan mengalami kematian. Tanpa baca kitab suci pun, akan tahu bahwa setiap manusia merasakan kematian. Dan, kematian pun tidak selalu datang pada usia senja. Ada yang mati ketika masih janin. Mati setelah dilahirkan. Mati semasa bayi. Mati semasa kanak-kanak. Remaja. Pemuda. Dewasa. Tua renta. Sebabnya pun beraneka. Ada yang karena sakit. Karena kecelakaan. Terbunuh. Atau, karena usia tua. Kapan datangnya, atau apa sebabnya, tidak perlu mengetahui kita. Karena itu semua berjalan berdasarkan hukum Allah. Tuhan mengatur dan menentukan semuanya ini berdasarkan sifat kasihNya. Namun, sifat dunia ini fana. Tidak tetap. Lenyap. Apa yang ada ‘saat ini’, sesaat kemudian sudah tiada. Kefanaan inilah sebenarnya yang menghantui manusia. Yang membuat derita pada kehidupan ini.
  1. MERASA TIDAK MEMILIKI APA-APA (LAHAWLA)
Ya, ini yang seharusnya harus kita lenyapkan. Yaitu merasa diri punya segalanya, merasa kaya, merasa berkuasa, merasa memiliki rumah, tanah, mobil, gedung bertingkat dsb. Pengakuan terhadap sesuatu yang tidak dimiliki inilah yang menyebabkan aneka penderitaan dan kesedihan pada manusia. Kenyataannya, kita tidak memiliki apa-apa. Hakikatnya semua ini kepunyaan Allah. Karena itu, manusia tidak membawa dunia ini kea lam kematian. Apa yang telah diperoleh dalam hidup ini hendaknya tidak di akui sebagai milik. Semua pencapaian itu hanyalah anugerah Ilahi. Sesuatu yang di karuniakan oleh Pemilik sejatinya kepada manusia. Sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, agar dijaga dan dipeliharanya. Negara pun bukan kepunyaan kita. Bukan kepunyaan para raja. Tetapi, itu semua hanyalah anugerah Tuhan. Dunia atau bagian dunia ini bukan kepunyaan kita. Karena itu, kita harus merasa tidak memiliki apa-apa. Dengan cara ini, tak ada kekecewaan dalam hati kita. Tak ada penderitaan yang menimpa kita. Tak ada kesedihan yang menerpa kita. Dan, hidup akan tenang hingga ajal menjemput kita, dan sesudahnya. Karena kita merasa tidak memiliki. Tetapi, milik-Nya.

  1. BERSERAH DIRI KEPADA KEHENDAK ALLAH
Kematian itu sendiri hukum Allah. Tapi, bentuk kematian merupakan Kehendak Allah. Dalam hidup ini ada kehendak manusia. Juga ada Kehendak Allah. Kehendak manusia ya kehendak yang bisa di lakukan oleh manusia. Sedangkan Kehendak Tuhan adalah kehendak yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Agar perjalanan hidup ini bisa mencapai titik kesempurnaan, maka “kehendak” harus diperjuangkan untuk bisa bertemu “Kehendak”. Sehingga manunggal! Menjadi satu. Bukan dua kehendak, tapi hanya ada satu kehendak.
Dengan memahami Kehendak Allah, kita tidak ragu-ragu dalam menjalani hidup ini. Kita mantap dalam hidup ini. Bila amanat Tuhan selalu kita jaga. Maka, tak perlu ada yang dikhawatirkan bila sewaktu-waktu di ambil-Nya kembali. Termasuk nyawa kita. Bukankah hidup dan mati kita ini kepunyaan-Nya? Hakikatnya, Tuhan lah yang berkehendak adanya hidup dan mati ini. Allah menjadikan mati dan hidup. Dengan cara itu, Allah mendidik dan melatih manusia untuk menyempurnakan dirinya. Dengan cara mematikan dan menghidupkan, Allah menguji manusia. Agar manusia dapat meraih tempat yang layak bagi dirinya. Yaitu kembali kepada-Nya. Ilayhi rẫji’un. Manunggal dengan-Nya.





MELEWATI PINTU KEMATIAN

Tepat melewati pintu maut. Maka, seseorang harus yakin bahwa dirinya ada di Pangkuan Tuhan Yang Maha Pengasih. Pada saat itu, pujian dihadirkan, diungkapkan atau dinyatakan dalam batin. Adapun pujian itu dalam bahasa para Wali sebagai berikut :
ALHAMDU LILLAHI RABBIL ẪLAMIN.
SI ENING MANJING SARIRA ENING, TETEPA JUMENENG ANGEUN-ANGEUN, TANSAH MURBA WIŚESANING ALLAH TA’ALA”.
Artinya :
Segala puji kepunyaan Allah Tuhan Semesta Alam.
Yang hening masuk ke dalam badan yang hening, semoga tetap menjadi “angeun-angeun”, senantiasa berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi.

Hening atau wening sebenarnya sebuah pencapaian dalam zikir. Tahap khusyuk. Sehingga pikiran benar-benar menjadi bening, jernih. Tak ada suatu noda pun yang melekat dalam kondisi jernih. Bagi yang pernah mengalami kondisi ini, akan mengerti apa yang dinamakan pikiran yang terang sekali. Dalam kondisi hening tak ada beban sedikit pun.
Nah, pada saat sekarat itu tiba. Pada saat heningnya kematian itu datang. Maka, dipujilah Tuhan dengan pernyataan “Yang hening masuk kedalam badan yang hening”. Sebenarnya, keheningan itu sendiri merupakan Sifatullah (Sifat Tuhan).
Kalimat berikutnya, “semoga tetap menjadi angen-angen”. Kata “angen-angen” disitu bermakna keyakinan dan pengamalannya. Tentang kebenaran yang dipegangnya. Jadi, yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah agar kita tetap teguh pendirian dalam iman tauhid, tidak berubah oleh keadaan yang kita hadapi.
Penutup pujiannya adalah “semoga senantiasa berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi”. Inilah keyakinan iman tauhid di akhir hayat. Kita sadari bahwa Ada kenyataan yang paling tinggi, paling besar, paling agung, dan paling berkuasa di jagat raya ini. Dan, ketika seseorang melewati pintu kematian maka pada saat itu pula lahir pengakuan asli bahwa dirinya itu nihil. Nol! Keberadaan dirinya ada di dalam kekuasaan Tuhan Yang Mahatinggi.
Hakikat manusia adalah pendakian spiritual. Perjalanan “Diri Sejati”! bagaikan korpus (paket) cahaya yang terpancar dari sumber Asal. Yaa, sumber Asal itu adalah Tuhan Yang Maha Esa! Inna Li Allah. Kita kepunyaan Allah. Kita berasal dari Allah. Kita ini memang melakukan perjalanan. Mulainya dari Allah dan akihirnya pun kembali kepada-Nya.

Adapun Pintu atau Pase Alam yang akan di laluinya setelah sakratulmaut adalah sebagai berikut :


  1. ALAM RUHIYAH
Begitu sakratulmaut dilampaui, maka masuklah Sang Diri ke alam ruhiyah. Alam nyawa. Suatu alam yang terang. Tetapi bukan terangnya siang hari. Dengan kata lain, terangnya itu bukan karena sinar matahari. Suatu terang yang tanpa panas. Dan, tidak tahu sumber terangnya itu.
Di alam ruhiyah arah tidak diketahui lagi. Mengapa? Karena tidak ada patokan. Di alam syahadah [alam dunia] ini kita tahu timur, karena kita membuat patokan bahwa matahari terbit di timur. Sedangkan di alam ruhiyah itu yang namanya timur, barat, utara, dan selatan, tidak kita ketahui lagi. Jika kita melihat lautan, maka kita tidak bisa melihat tepinya atau pantai dari pulau lain. Ternyata, lautan tanpa tepi itu sebenarnya perwujudan dari “Hati” yang terkena pancaran otak. Unsure-unsur kimia otak memancarkan sinar yang tak tertangkap oleh mata. Tapi, pancarannya terlihat oleh mata hati.
Di tengah-tengah samudra tanpa tepi itu, memancarlah cahaya dari Pancamaya. Pancaran warna cahayanya terang. Yang merupakan perwujudan dari jantung yang mendapatkan pancaran cahaya dari Roh Ilafi. Cahayanya meliputi hakikat hati. Dan, menjadi sumber sifat-sifat mulia manusia. Yaitu, Mukasyafah. Disebut juga mukasifat, yang menuntun semua sifat mulia.
  1. ALAM SIRRIYAH
Setelah alam ruhiyah terlampaui, maka masuklah ke alam Sirriyahi. Suatu alam yang mempunyai 4 (empat) macam warna. Yaitu: hitam, merah, kuning, dan putih. Semua itu merupakan perwujudan budi, yang menimbulkan nafsu.
    • CAHAYA HITAM
Memancar dari perut dan keluar melalui mulut. Dalam cahaya hitam ini muncul berbagai macam binatang yang masing-masing mendesak untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan. Cahaya hitam ini jangan sampai menghanyutkan perjalanan spiritual dari jiwa setelah melewati kematian. Ingat pujian pada saat sakratulmaut. Iman tauhid tak boleh goyah. Begitu goyah dan terhanyut kekuatan cahaya hitam itu, maka Sang Diri akan menitis [terlahir kembali] di alam binatang. Jangan heran bila kita menyaksikan binatang, ada yang begitu dekat dengan manusia, dan ada yang ketakutan terhadap manusia.



    • CAHAYA MERAH
Memancar dari empedu dan keluar melalui telinga. Yang muncul dalam cahaya merah itu adalah berbagai jenis setan alas, makhluk halus yang jahat. Tampak seperti api raksasa yang menyala-nyala. Sama seperti pada makhluk pada cahaya hitam, mereka juga mengaku-ngaku sebagai Tuhan. Angen-angen yang tidak goyah, tak akan mau menerima desakan mereka. Jika sampai takluk, atau terbujuk, maka Sang Diri akan terlahir kembali ke dalam alam setan alas.
    • CAHAYA KUNING
Memancar dari limpa dan keluar melalui mata. Dalam cahaya kuning ini akan kelihatan berbagai macam burung yang terbang menggoda. Dayanya seperti angina rebut. Masing-masing mendesak untuk mengakuinya sebagai Tuhan. Bilamana terjebak desakan mereka, maka akan terlahir kembali sebagai burung. Hidup lagi dalam bangsa burung.

    • CAHAYA PUTIH
Cahaya memancar dari tulang dan keluar melalui hidung. Yang menampakan diri dalam lautan cahaya putih adalah berbagai jenis ikan dan binatang yang hidup di air. Mereka juga menggoda Sang Diri untuk mengakui mereka sebagai Tuhan. Berbagai istana tampak di lautan cahaya putih. Tapi, itu semua hanyalah godaan. Tentu, itu bukan istana yang sesungguhnya. Kalau sampai terpesona dan masuk kedalamnya, maka akan terlahir kembali kedunia ikan atau binatang air.

  1. ALAM NURIYAH
Memasuki alam nuriyah. Kata “Nur” berate cahaya. Jadi, alam ini merupakan alam yang dipenuhi cahaya. Alam yang dipenuhi cahaya tak terbatas. Cahaya yang amat terang. Melebihi terangnya alam sirriyah.
Di alam nuriyah ini, selepas adanya cahaya yang terang benderang, muncullah cahaya terang berwarna hitam, merah, kuning, putih, dan hijau. Semua cahaya itu terbentang di hadapan Sang Diri. Disekeliling roh orang yang meninggal. Tampaklah istana-istana. Tapi, bukan istana yang sesungguhnya yang di atur oleh Tuhan Yang Mahamulia. Hanya pantulan istana. Pantulan yang berasal dari cahaya yang berwarna lima macam tersebut.
Di dalam lautan cahaya yang berwarna Hitam tampak istana-istana yang dihuni oleh bangsa binatang. Istana yang muncul dari cahaya berwarna Merah merupakan wilayah yang dihuni bangsa makhluk halus yang jahat [setan alas, bekakasan]. Dalam cahaya warna Kuning terdapat istana-istana yang merupakan hunian bangsa burung. Dalam cahaya Putih ada istana-istana pantulan dari bangsa ikan. Sedangkan dalam lautan cahaya yang berwarna Hijau tampak istana yang berasal dari dunia tumbuhan.
Di saat kelihatan beragam istana ini, ada suara-suara. Anehnya suara-suara ini mau memandu Sang Diri. Masing-masing suara itu menunjukan kelembutannya. Seakan-akan menawarkan jasa peristirahatan bagi Sang Diri atau roh orang yang mati. Tentu saja itu semua jebakan. Tak ada istana yang perlu dipilih. Semua bisa menyebabkan kelahiran kembali ke alam yang dimasukinya.
  1. SUB ALAM NURIAH (ALAM PERMANA atau ALAM ISYQ [Kecintaan] ).
Pada sub alam nuriah ini cahayanya bening sekali. Di dalam cahaya itu tampaklah sebuah nyala yang tegak sebesar Lidi. Nyala itu mempunyai delapan warna cahaya, Yaitu Hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, ungu, dan merah dadu [merah muda].
Semua warna terhampar, dan masing-masing memperlihatkan surga serba indah. Itulah perwujudan Permana yang di tambah cahaya yang dipancarkan oleh sukma. Alam permana disebut alam kecintaan. Pada saat itu Sang Diri mengalami kerinduan akan surga. Surga tampak asri. Tetapi, ternyata juga belum surga yang sebenarnya. Bukan tempatnya kenikmatan yang membawa manfaat bagi kehidupan Sang Diri. Juga bukan tempatnya rahmat Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Alqur’an.
Surga di alam nuriyah ini bukan surga sejati, tetapi hanyalah kahyangan atau tempat bangsanya makhluk halus, makhluk tersembunyi. Kedelapan macam surga itu mengeluarkan bau harum semerbak. Harumnya bisa membuat Sang Diri tertarik. Sebenarnya surga yang tampak oleh Sang Diri ini hanyalah perwujudan dari angan-angan atau ciptaan dari manusia sendiri. Jika tertarik kesitu, ya akan menjadi raja dari makhluk halus di alamnya masing-masing.
  1. ALAM ULUHIYAH
Jika lolos dari berbagai rintangan di alam-alam sebelumnya, maka berikutnya Sang Diri memasuki alam uluhiyah. Inilah yang disebut alam ketuhanan. Terangnya alam ini melebihi alam nuriyah. Di alam ini tampak cahaya yang memancar. Di dalam cahaya itu tampak suatu perwujudan seperti lebah yang masih berada di dalam sarangnya. Keadaan ini ada di maqam Fana. Dengan demikian, cahaya yang terpancar itu sebenarnya berasal dari sukma. Pancaran cahayanya menambahi segala macam warna. Pancaran cahayanya meliputi seluruh alam, baik alam kecil, besar, dengan segala isinya.
Hidupnya warna-warni cahaya itu berasal dari permananya rahsa. Pada saat itu datanglah malaikat-malaikat yang menyerupai ayah, kakek, dan leluhur lelaki. Mereka mengaku sebagai utusan-utusan Tuhan yang akan mengantarkan ke alam karamattulloh. Yaitu, alam kemuliaan Tuhan Yang Mahasuci. Meskipun demikian, Sang Diri harus tetap kokoh dengan pendiriannya semula, dan tidak mudah percaya.

  1. SUB BAGIAN ALAM ULUHIYAH (LAPISAN KE 2)
Masih berada di sub-bagian alam ruhiyah. pada sub-alam ini cahayanya lebih terang lagi keadaannya. Di ala mini tampak cahaya yang bersinar cemerlang. Cahaya yang berkilauan. Di ala mini tampak perwujudan bagaikan boneka gading yang bertahtakan mutiara. Gebyar-gebyar cahayanya. Dilihat dari jenis kelaminnya, ternyata wujud itu bukan laki-laki. Bukan perempuan. Bukan pula banci.
Itulah maqom baqa, alam baka. Keadaan di ala mini berasal dari permanya rahsa yang menguasai semesta alam. Keberadaan ala mini berasal dari atma. Di alam ini Sang Diri didatangi para bidadari yang menyerupai ibu, nenek, dan para leluhur yang berasal dari pihak ibu. Mereka semua juga mengaku sebagai utusan-utusan Tuhan Yang Mahasuci. Mereka menyatakan diri sanggup mengantarkan Sang Diri kea lam karamattullah. Pada tahap ini pun diharapkan Sang Diri tidak mengimani mereka. Sang Diri harus terus melakukan pendakian. Meneruskan perjalanan.

  1. SUB BAGIAN ALAM ULUHIYAH (LAPISAN KE 3)
Masih berada di sub-bagian alam uluhiyah. Tentu alam yang lebih tinggi lagi. Jadi, ada 3 (tiga) lapis alam uluhiyah. Dan, ini adalah bagian tertinggi dari alam uluhiyah. Cahayanya, luar biasa terangnya! Sudah tidak lagi bisa melihat sesuatu karena terangnya. Bagaikan kita menatap langsung seribu matahari di siang hari. Meskipun terang benderang, tapi ketika kita menatap satu matahari saja, membuat kita tidak akan mampu melihat keadaan di sekitar kita. Yang ada hanyalah cahaya yang terang cemerlang tanpa bayangan.
Keadaan ini sebenarnya merupakan perwujudan dari Dzat Atma. Yang sebenarnya merupakan dzat yang bersifat esa. Alam tanpa arah dan tanpa ruang. Tanpa warna. Tanpa rupa. Suatu keadaan yang azali dan abadi. Dzat Atma inilah yang berkuasa dan yang menguasai seluruh alam. Meliputi seluruh alam. Dan, memancarkan segala maqom sempurna.
Dzat Atma hidup tanpa ada yang menghidupi. Sebagai hakikat dari Tuhan Yang Mahasuci. Mahaagung Dzat-Nya. Mahamulia sifat-Nya. Mahakuasa Asma-Nya. Mahasempurna tidakan Af’al-Nya. Ternyata Dzat itu berada pada Sang Diri Pribadi. Tak ada jarak lagi antara hamba dan Tuhan. Nah, disitulah wujud manunggaling kawula klawan Gusti. Menunggalnya hamba dan Tuhan. Wujud final dari “ilayhi raji’un”, kepada-Nya kita kembali! Nah, surga yang sejati itu sebenarnya manunggalnya Sang Diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.










KITAB AT-TAZKIYAT (ADAB BERWUDU)




ﻓـﺼﻝ ﻮﻀﻮﺀ

ADAB BERWUDHU
Yang di ambil dari Kitab Kuning Terjemahan Maroqil Ubudiyah dan Syarah Bidayah Al-Hidayah Karya Imam Al-Ghazali
ﺒﺴــــــﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢ
BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM

Q.S AL-MAIDAH (5)

Ayat 6 : Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit (yang tidak boleh kena air) atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan (bersentuhan kulit / bercampur sebagai suami istri), maka jika kamu tidak memperolah air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-nikmatNya bagimu, agar kamu bersyukur.

DO’A SEBELUM WUDHU

ﺍﻠﺤﻤﺪ ﷲ ﺍﻠﺬﻯ ﺠﻌﻞ ﻫﺬﺍﻠﻤﺎﺀ ﻂﻬـﻮﺮﺍ ﺮﺐﺍﻧﻰﺍﻋـﻮﺬ ﺒـﻚ ﻤﻦﻫﻤﺰﺍﺖﺍﻠﺷـﻴﺎ ﻄﻴـﻦ ﻮﺍﻋـﻮﺬﺒـﻚ ﺮﺐ ﺍﻦ ﻴـﺤـﻀﺮﻮﻦ

ALHAMDULILLAAHI LADZII JA’ALA HAADZAL MA’ATHAHUURA, RABBI INNII A’UUDZU BIKA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA A’UUDZU BIKA RABBI AN YAHDHURUUNI.
Anu hartina :
Sagala Puji Pikeun Allah anu geus ngajadikeun cai ieu suci tur nyucikeun. Ya Allah, abdi nyalindung ka AnjeuN tina godaan setan jeung abdi nyalindung ka AnjeuN Ya Allah, tina kajahatan setan anu rek mangaruhan (kana Paniatan Ibadah jeung Shalat Abdi).
ﻠـﻔـﻇ ﻧـﻴـﺔ ﻮﻀﻮﺴﺮﺖ ﻤﺎ ﻜﻲ ﺪ ﻠﻐـﺗـﻦ

ﻧﻮﻴـﺖ ﺮﻓـﻊﺍﻠﺤـﺪ ﺚﺍﻻ ﺻﻐـﺮﻻ ﺴﺒﺎﺤـﺔﺍﻠﺻﻼﺓ ﻓﺮﻀﺎﷲ ﺗﻌﺎﻻ

NAWAETU ROF’AL HADASIL ASHGHORI LI’ISTIBAAHATI SHALATI
FARDHO LILLAHI TA’ALA
Hartina :
Seja Kawula ngangkat hadas leutik karna Ngameunangkeun Shalat Fardhu karna Allah Ta’ala.

ﻤﺮﺗـﻴﻼ ﻜـﻦ ﻮﺼﻮﺀ ﺠـﻊ ﺪﻋﺎ٦ ﻧﺎ
ﻤﻚ ﺴﻧـﻪ ﻋﻤﺒﻪ ﺪ ﻮﺍ ﺪ ﻤـﻔـﻞ ﻠـﻌـﻦ ﻧـﻔﻰ ﻜﺎﻦ ﻓـﻜﻼﻋـﻦ ﻧـﻧ ﺎﺴﺮﺕ ﺒـﺮﻱ ﻤﭽﺎﺇﻱ ﺪﻋـﺎﺀ




DO’A MEMBASUH KEDUA TELAPAK TANGAN (Diambil dari Kitab Ar-Ramli)

ﺁﻠـﻬــﻢ ﺍﺤـﻔـﻆ ﻴـﺪﻯ ﻤﻦﻤﻌﺎﺼﻴﻚﻜـﻠﻬﺎ
ALLAHUMMA FADHYADAYA MIMMA A’SHIKA KULLIHA

Artinya :
YA ALLAH, JAGALAH KEDUA TANGANKU INI DARI SELURUH KEDURHAKAAN TERHADAP-MU.

Atau membaca yang di nukil dari Kitab Al-Adzkar :

ALLAHUMMA INNI AS-ALUKAL YUMNAA WAL-BARAKATA WA A-‘UUDZU BIKA MINASY-SYU’MI WAL-HALAKTI
Artinya :
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan ibadah dan keberkahan, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan kerusakan

DO’A KETIKA BERKUMUR

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺍﻋـﻴﻧﻰﻋـﻠﻰ ﺬ ﻜـﺮﻚ ﻭﺷـﻜـﺮﻚ
ALLAHUMMA A’YINI A’LA DZIKRIKA WA SYUKRIKA
Artinya :
Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingat-Mu dan mensyukuri-Mu.

Atau membaca :

ALLAHUMMA MIN HAUDHI NABIYYIKA MUHAMMADIN SHALLALLAAHU ‘ALAHI WA SALLAMA KA’SAN LAA AZHMA-U BA’DAHU ABADAN
Artinya :
Ya Allah, berilah aku minum dari telaga Nabi-Mu (Muhammad SAW), segelas sehingga aku tidak akan haus selama-lamanya.

Atau membaca :

ALLAHUMMA A’YINI A’LA TILAWATI KITAABIKA WA KASY’RATI DZIKRIKA
Artinya :
Ya Allah, tolonglah aku untuk membaca kitab-Mu dan banyak mengingat-Mu.

DO’A KETIKA MENGHIRUP AIR KE HIDUNG

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺍﺮﺤـﻧﻰ ﺮﺍﺀﺤﺔ ﺍﻠﺠـﻧـﺔ ﻭﺍﻧـﺖﻋـﻧﻰ ﺮﺍﺾ
ALLAAHUMMA ARIHNI RAA-IHATAL-JANNATA WA ANTA ANIY RAADHIN
Artinya :
Ya Allah, bauilah kami bebauan dari sorga-Mu dan semoga engkau ridho kepada saya.

Atau membaca :

ALLAAHUMMA LAA TAHRIM-NI RAA-I’HATA NA’YIMIKA WA-JANNATIKA
Artinya :
Ya Allah, Janganlah Engkau haramkan aku bau kenikmatan dan surga-Mu.

DO’A KETIKA MENGELUARKAN AIR DARI HIDUNG

ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN RAWAA-IHIN-NAARI WA SUU-IDDAARI.

Artinya :
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bebauan neraka dan tempat tinggal yang buruk.

DO’A KETIKA MEMBASUH MUKA

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺒـﻴﺾ ﻭﺠـﻬﻰ ﻴـﻭﻢ ﺗﺒـﻴﺾ ﻭﺠـﻭﻩ ﻭﺗﺴـﻭﺪ ﻭﺠـﻭﻩ
ALLAAHUMMA BAID WAJHII YAUMA TABYADHU WUJUHU WA TASWADDU WUJUHU

Artinya :
Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih (berseri) dan wajah-wajah menjadi hitam legam (yakni pada hari kiamat).

Atau membaca :

ALLAAHUMMA BAID WAJHI BI-NUURIKA YAUMA TABYADDHU WUJUHU AWLIYAA-I’KA WA LAA TUSAWWID WAJHI BI-DHULUMAATIKA YAWMA TAS-WADDU WJUUHU A’DAA-I’KA
Artinya :
Ya Allah, putihkan wajahku dengan cahaya-Mu ketika wajah-wajah para wali-Mu menjadi putih. Dan janganlah Engkau hitamkan wajahku dengan kegelapan-Mu ketika wajah-wajah para musuh-Mu menjadi hitam.


DO’A KETIKA MEMBASUH TANGAN KANAN

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺍﻋـﻄـﻧﻰ ﻜـﺗﺎ ﺒﻰ ﺒـﻴـﻤﻧﻰ ﻮﺤﺎ ﺴﺒﻧﻰ ﺤﺴﺎ ﺒﺎ ﻴﺴـﻴـﺭﺍ
ALLAAHUMMA A’THINII KITABII BI YAMIINII WA HAASIBNII HISAABAN YA SIIRAN
Artinya :
Ya Allah, berikanlah kitabku dengan tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan.

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﻻ ﺗـﻌـﻄـﻧﻰ ﻜـﺗﺎﺒﻰ ﺒﺷـﻤﺎ ﻠﻰ ﺍﻮﻤﻦ ﻭﺮﺍﺀﻆـﻬـﺮﻯ
ALLAHUMMA LA TU’TINI KITABI BISYIMAALI AWMIN WARAA‘I’DHOHRI
Artinya :
Ya Allah, janganlah engkau berikan kitabku pada tangan kiriku, atau dari belakang punggungku.

Atau membaca :
ﺍﻠـﻬـــﻢ ﻻ ﺗـﻌـﻄـﻧﻰ ﻜـﺗﺎﺒﻰ ﺒﺷـﻤﺎ ﻠﻰ ﻮﻻ ﻤﻦ ﻭﺮﺍﺀﻆـﻬـﺮﻯ
ALLAHUMMA LAA TU’TINI KITABI BISYIMAALI WA LAA MIN WARAA‘I’ZHAHRII
Artinya :
Ya Allah, janganlah engkau berikan kitabku pada tangan kiriku, dan jangan pula dari belakang punggungku.

Atau membaca :

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺍﻧﻰﺍﻋـﻮﺬﺒـﻚ ﺍﻦ ﺗـﻌﻄﻴﻧﻰ ﻜـﺗﺎﺒﻰ ﺒﺷـﻤﺎ ﻠﻰ ﺍﻮ ﻤﻦ ﻭﺮﺍﺀﻆـﻬـﺮﻯ

ALLAAHUMMA INNI A’UDZUBIKA AN-TU’THIYANI KITAABI BISYIMAALI AWMIN WARAA’I ZHAHRII
Artinya :
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar jangan engkau berikan kitabku dengan tangan kiriku atau dari belakang punggungku.

DO’A KETIKA MENGUSAP KEPALA

ALLAAHUMMA HARRIM SYA’RII WA BASYARII ‘ALAN-NAARI WA AZHIL-LANII TAHTA’ARSYIKA YAUMA LAA ZHILLA ILLAA ZHILUK.
Artinya :
Ya Allah, haramkanlah rambut dan kulitku atas api neraka, dan naungilah aku di bawah ‘arsy-Mu pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Mu.

Atau membaca :

ALLAAHUMMA GHAS-SYINI BIRAHMATIKA WA-ANZIL A’LAY-YA MIN BARAKAATIKA WA-AZHIL-LANII TAHTA ZHILLI AR’SYIKA YAWMA LAA ZHILLA ILLAA ZHILLUKA.
Artinya :
Ya Allah, penuhilah aku dengan rahmat-Mu dan turunkan kepadaku dari barokah-Mu dan naungilah aku di bawah naungan Arsy-Mu pada hari tiada naungan, kecuali naungan-Mu.


DO’A KETIKA MENGUSAP KEDUA TELINGA

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺍﺠـﻌـﻠـﻧﻰ ﻤﻥﺍﻠﺬ ﻴﻦ ﻴـﺴﺗـﻤﻌـﻭﻥ ﺍﻠـﻗـﻭﻞ ﻓـﻴـﺗـﺒـﻌـﻭﻥ ﺍﺣـﺴﻧـﻪ
ALLAHUMAJ’ALNI MINALLADZINA YASTAMI’UNA QAWLA FAYATABI’UNA AHSANAHU
Artinya :
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik darinya.

Atau membaca :

ALLAAHUMMA ASMA’NII MUNAADIYAL-JANNATI MA’AL-ABRAAR.
Artinya :
Ya Allah, perdengarkanlah kepadaku suara pemanggil sorga, di dalam surga, bersama orang-orang yang baik (berbakti).

DO’A KETIKA MENGUSAP LEHER (TENGKUK)

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﻓﻚ ﺮﻗـﺒﺗﻰ ﻤﻦﺍﻠﻧﺎ ﺮﻮﺍﻋـﻮﺬ ﺒﻚ ﻤﻦﺍﻠﺴﻼ ﺴﻞ ﻮﺍﻻﻏـﻼ ﻞ
ALLAAHUMMA FUKKA RAQABATII MINAN-NAARI WA A’UUDZU BIKA MINAS-SALAASILI WAL-AGHLAAL.
Artinya :
Ya Allah, pisahkanlah batang leherku dari api neraka dan aku berlindung kepada-Mu dari ikatan rantai dan belenggu.

DO’A KETIKA MEMBASUH KAKI KANAN

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﺜـﺒﺕ ﻗـﺪ ﻤﻰﻋـﻠﻰﺍﻠﺼﺮﺍﻄ ﺍﻠﻤﺴﺗـﻘـﻴﻢ ﻴـﻮﻢ ﺗـﺷﺒﺕ ﻓﻴﻪﺍﻗـﺪﺍﻢ ﻋـﺒﺎﺪ ﻚ ﺍﻠﺼﺎ ﻠـﺤـﻠﻴﻦ
ALLAHUMMA SYABIT QADAMI A’LA SHIRAATIL MUSTAKIM YAWMA TUSYABITU FIYHI AQDAMA I’BADIKA SHOLIHIN
Artinya :
Ya Allah, teguhkanlah telapak kakiku di atas jalan yang lurus bersama kakinya orang-orang yang saleh.

Atau membaca :

ALLAAHUMMA SYABIT QADAMII A’LAA-SHIRAATHIL MUSTAQIIMI MA’A AQDAAMI ‘IBAADIKASH-SHAALIHIN.
Artinya :
Ya Allah, tetapkanlah kakiku di atas jalan yang lurus bersama kaki hamba-hamba-Mu yang saleh.

DO’A KETIKA MEMBASUH KAKI KIRI

ﺍﻠـﻬـــﻢ ﻻ ﺗـﺰﻞ ﻗـﺪ ﻤﻰﻋـﻠﻰﺍﻠﺼﺮﺍﻄ ﻓﻰﺍﻠﻧﺎﺮ ﻴـﻮﻢ ﺗـﺰﻞ ﻓﻴﻪﺍﻗـﺪﺍﻢ ﺍﻠﻤﻧﺎ ﻓـﻘـﻴﻦ ﻭﺍﻠﻤﺷﺮﻜﻴﻦ
ALLAHUMMA LAA TAZILU QODAMI A’LA SHIRAATI FI NAARI YAWMA TAZILU FIYHI AQDAMU MUNAFIKIN WAL MUSYRIKINA

Artinya :
Ya Allah, janganlah engkau gelincirkan kakiku di atas jalan neraka pada hari ketika kaki orang-orang munafik dan orang-orang musyrik tergelincir.

Atau membaca :
ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIKA AN TAZILLA QADAMII A’LA SHIRAATI FI NAARI YAWMA TAZILLU AQDAAMU MUNAFIQIINA WAL MUSYRIKIIN]
Artinya :
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar kakiku tidak tergelincir di atas jalan api neraka pada hari ketika kaki orang-orang munafik dan orang-orang musyrik tergelincir.

DO’A SESUDAH BERWUDHU

ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHUU. WA ASYHADU ANNA SAYYIDANA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUHUU. ALLAAHUM-MAJ ’ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ’ALNII MINAL MUTATHAHHIRIINA, WAJ’ALNII MIN’IBAADIKASH SHAA-LIHIINA. WAJ’ALNII SHABUURAN WAJ’ALNII SYAKUURAN WAJ’ALNII ADZKURKA DZIKRAN KATSIIRAN WA USABBIHUKA BUKRATAN WA ASHIILAN
SUBHAANAKA ALLAAHUMMA WA BIHAMDIKA ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA FAGHFIR LII WA TUB’ALAYYA INNAKA ANTAT TAWWAABUR RAHIIM.
WA SHALLALLAHU ALA SYAIDINA MUHAMMADIN NURU JATI WA SIRI SAARI FII SAA’IRIL AS’MAA-I WA SHIFFAATI WA A’LA ALIHI WA SHAHBIHII WA SALIM
INNĀ ANZALNĀHU FĨ LAILATIL QODR-Ĭ, WA MĀ ADRĀKA MĀ LAILATUL QADR-I, LAILATUL QADRI KHAIRUM MIN ALFI SYAHR-IN, TANAZZALUL MALĀIKATU WARRŨHU FĨHĀ BI IZNI RABBIHIM MIN KULLI AMR-IN, SALĀMUN HIYA HATTĀ MATLA’IL FAJR-I.

















Rabu, 06 Februari 2013

HAKIKAT SHALAT 5 (LIMA) WAKTU



HAKIKAT SHALAT 5 WAKTU DAN PENJABARANNYA








WAKTU SUBUH
Waktu Subuh adalah petunjuknya ROHULLOH yang keluar dari ubun-ubun, berwarna merah, bintangnya Qomar. Sebagai turunnya wahyu, shalat detak dada, Nabi Adam A.S. shalatnya 2 rokaat, hal itu merupakan awal kumpulnya Roh dan Jasad.
Jadi inti dari shalat subuh 2 rokaat, adalah yang mengisyaratkan kita akan adanya 2 unsur yang ada pada diri, yakni adanya Roh dan Jasad.

WAKTU DUHUR
Waktu Duhur adalah petunjuknya di Otak yang keluar dari telinga, Akunya rupa, bintangnya Jauhar, yang mempunyai shalat tersebut adalah Nabi Ibrahim A.S. Sembahyangnya di Detak hati kita 4 rakaat itu.
Inti Shalat Duhur :
Yaitu menjabarkan tentang adanya wadag pelengkap kesempurnaannya wujud, yaitu : Kepala, Badan, Tangan, dan Kaki. Adapun yang nyata adanya adalah 2 mata, 2 telinga.

WAKTU ASHAR
Waktu Ashar adalah petunjuknya di Limpa yang keluar dari hidung, berwarna putih, bintangnya Samsi, pemiliknya Nabi Yunus A.S. Sembahyangnya di Detak Pusat 4 rakaat, nyatanya di dada dan punggung lambung kiri kanan.
Inti Shalat Ashar :
Yaitu menjabarkan tentang adanya 4 Dimensi wujud, yang ada pada kita yaitu : Depan, Belakang, Kiri dan kanan.

WAKTU MAGHRIB
Pada waktu Maghrib adalah petunjuk keluarnya Nyawa pada tubuh semua, warnanya hijau, sebab sedang bersifat hidup, bintangnya Mutakarob, shalatnya pada detak leher, Nabi Isa A.S. sebahyang 3 rakaat. Hal ini nyata ada pada mulut dan hidung.
Inti Shalat Maghrib :
Yaitu menjabarkan tentang adanya 3 alat inti hidup, yang ada pada kita yaitu : Akal, Budhi, dan Nafsu. Adapun yang nyata adanya adalah 1 lobang mulut, 2 lobang hidung.

WAKTU ISA
Pada waktu Isa adalah petunjuknya keluar dari tulang punggung, sebab tidak ada jadi adanya, warnanya hitam, bintangnya Juhra, nyatanya berada di kiyal, Shalatnya berada pada detak lekuk pada dagu. Nabi Musa A.S. shalatnya 4 rakaat, merupakan perwujudan dari tangan 2, beserta kakinya.
Inti Shalat Isyab :
Yaitu menjabarkan tentang adanya 4 alat hidup sebagai penggerak. Adapun yang nyata adanya adalah 2 Tangan, dan 2 Kaki.


MINAL WITRI
Minal witri ada 2 rakaat petunjuknya keberadaan Hamba dan Gustinya, bintangnya Jauhar Awal, Nabinya adalah Nabi Muhammad Rasululloh SAW. Yang memiliki 2 rakaat di Dubur dan di Zakar.

RAKA’ATAL
Adalah Rakaat Salam, petunjuknya tidak ada lain kecuali Allah Yang Maha Agung, yang menguasai siang dan malam, Shalatnya ada pada detak tengkuk. Itulah jangan terlihat sembah dan puji, waspadalah dalam Do’a.

PENJABARAN HAKIKAT SHALAT
SEJAK DARI BERDIRI, RUKUK, SUJUD, DAN DUDUK SAMPAI MENGETAHUI TAKBIRATUL IKHRAM

Tentang masalah shalat yang sempurna letaknya pada Takbir Mukaranah, ada 8 (delapan) hurufnya, ketahuilah :
  1. Huruf Alif Mutakalimun Wahid ()
  2. Huruf Lam Ta bengil ( )
  3. Huruf Lam Jaidah ( )
  4. Huruf He Hu-ahad ( )
  5. Huruf Lintamsur ( )
  6. Huruf Kaf Kabirah ( )
  7. Huruf Berubu birah rera ( )
  8. Huruf Pingul Drajati ( )

Lengkap 8 (delapan) huruf di situ berkumpulnya dan akan menjadi 4 hal, yaitu : IKRAM, MIKRAJ, MUNAJAT, dan TUBADIL.

  1. IKRAM
Adalah segala tingkah laku shalat sampai pada saat takbir
  1. MIKRAJ
Maksudnya Budi yang mulia
  1. MUNAJAT
Maksudnya segala kata-kata, ucapan dalam shalat, berdialaog dengan Dzat, shalat itu memuliakan Dzat. Dzat bersifat Rahman, bernama Isbat dan Napi yaitu Kun Fayakun. Itulah Hakikat shalat, memuliakan yang Suci, meluhurkan yang Kuasa.
  1. TUBADIL
Maksudnya akan tergantikan jika badan sudah hilang bergeraknya keras maupun lemah, sudah terwakili pada tindakan yang sekarang.
Ada 8 (delapan) hal yang harus diperhatikan, sebagai hal yang dapat mengokohkan iman. Diantaranya sebagai berikut :

    1. SIFAT HAYUN
Maksudnya didalam shalat harus hidup tidak boleh mati, Maksudnya Hidup adalah menghadapkan hati kepada Allah dengan penuh kerendahan dan kesadaran.
Sari dari pada Shalat ialah tuntutan dari pada batin kita untuk memperoleh perhubungan dengan yang ada diluar kenyataan, Ialah Yang Maha Tinggi yaitu Allah SWT.”
,,Shalat ialah suatu bukti adanya rasa cinta dan bakti terhadap sesuatu Yang menciptakan kegaiban hidup”.
,,Shalat ialah fungsi hayati (hidup) yang terpenting apabila kita ingin berfikir dengan benar dan ingin mengetahui hakikat kenyataan yang paling akhir.
    1. SIFAT QODIRUN (KUASA)
Maksudnya tidak boleh kendor semangatnya dalam meraih ke Ridloan-Nya, mengharap cinta Allah dengan rasa ikhlas, sungguh-sungguh dalam shalat.
,,Shalat ialah dengan sadar mencari perhubungan dengan Suksma Semesta Alam dan kita butuh pada itu, seperti kita butuh pada makan dan tidur”
,,Shalat bukanlah minta-minta dengan do’a yang diucapkan dengan kerendahan ; Shalat ialah satu-satunya perbuatan mulia dan berani bagi tiap orang yang ragu-ragu apakah dia berbuat benar seperti dia harus berbuat”.
    1. SIFAT MURIDAN
Maksudnya kemauan yang kuat dalam menjalankan shalat, tak terhalang oleh kehendak niat apapun, kecuali kehendak akan Ridho Allah, ‘LA MAKSUDU ILALLAH’ ( Tak ada maksud / tujuan lain selain Allah).
Shalat ialah kemauan yang diruncingkan ke arah Tuhan. Kekuatan Shalat yang memberi hiburan dan menambah keteguhan terletak didalam kenyataan, bahwa manusia mengenal sesuatu, kepada siapa ia dapat meminta pertolongan. Dia merasa tidak bersendiri, Yang Maha Suci ada berdekatan dengan dia. Dia selalu dapat memaling kepada-Nya dengan keinginan, kepentingan, kesukaran dan penderitaannya.
    1. SIFAT SAMIAN
Maksudnya pendengaran yang awas, dengarkanlah (bersuaralah ?) dalam melakukan shalat.
Mula-mula orang mengira, bahwa Shalat itu mengucapkan kata-kata; akan tetapi dia mengerti, bahwa Shalat itu tidak berdiam, akan tetapi mendengarkan. Demikian Shalat berarti tidak mendengarkan kata-kata sendiri, Shalat berarti berdiam dan menunggu, agar yang Shalat mendengar suara Tuhan”.
    1. SIFAT BASIRON
Maksudnya penglihatan dalam shalat tidak boleh buta.
Intinya : Pada waktu kita menjalankan Shalat, maka pikiran kita tidak lagi mempunyai hubungan dengan keadaan didunia ini; pikiran kita pada waktu shalat keluar dari pusat akal dan selanjutnya mengalir ke-arah Budhi ; didalam Budhi pikiran kita bebas dari pengaruh-pengaruh buruk. Lebih dalam pikiran kita didalam Shalat ditujukan ke arah Tuhan Yang Maha Esa, lebih erat pikiran ini mempunyai hubungan dengan Dia.
Didalam Budhi pikiran ini dibersihkan dari semua nafsu-nafsu yang selalu menyertai pikiran kita dengan menghisap Nur Illahi yang datang dari Allah. Lebih banyak orang meninggalkan Agama dan tidak menjalankan Shalat, lebih sering dunia dihinggapi oleh bencana perang, ialah suatu proses bunuh membunuh dengan tujuan apabila menang, dapat makan kenyang.
Pemusatan pikiran kearah benda semata-mata berarti kemusnahan, peningkatan pikiran kearah Budhi, terus ke Tuhan, dengan jalan Shalat, berarti hidup sejati, sebagai manusia sejati (Insan Kamil)
    1. SIFAT ALIMAN
Maksudnya mengerti, mamahami apa nama shalatnya.
Intinya : ,,Shalat melatih kita supaya tahu berterima kasih. Berhubung dengan itu, maka tidak boleh dilupakan untuk berterima kasih pula kepada mereka, kepada siapa kita berhutang budi. Mengetahui terimakasih, lahir maupun batin, boleh kita ibaratkan membayar hutang. Lain dari pada itu, rasa terima kasih yang meluap-luap, mengantar kita kearah pantai ibadah, dan ada kalanya, pada waktu kita riang gembira dan bersyukur kepada Allah, benar-benar kita singgah dipantai ibadah dan bersujud.
Menyicil hutang budi tidak lain dengan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh, yang timbul dari hati yang suci, ialah dengan Shalat, oleh karena semua kemurahan datangnya dari Allah, dan rahmat Allah tidak akan diturunkan hanya untuk yang ber-Shalat, akan tetapi demikian pula untuk mereka yang menghutangkan budi. Terhadap kemurahan Allah yang terbukti didalam kekayaan alam yang semuanya disediakan bagi kita, kita wajib mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.
    1. SIFAT MUTAKALIMAN
Maksudnya dalam pengucapan tidak terjadi pengulangan, ucapan harus jelas di dalam shalat.
    1. SIFAT BAKIN
Maksudnya dalam melakukan shalat harus terus menerus (teratur secara terus menerus).
Intinya : Shalat harus dikerjakan dengan tertib dan teratur, serta tepat pada waktunya, agar semua berjalan dengan teratur dan seragam. Lain dari pada itu ketertiban menjadi sifat yang terutama dari Kekuasaan yang menguasai seluruh alam, menjadi satu-satunya alat perhubungan antara Khaliq dan Makhluk. Allah menghasratkan ketertiban alam lebih dahulu, sebelum mengadakan sesuatu ; oleh karena itu kekacauan sudah barang tentu itu bukan kehendak Allah.
Apabila seorang menjalankan ketertiban, maka ia sebenarnya memasukan sifat Illahi kedalam sanubarinya; orang yang tertib ialah orang yang ber-Iman, yang mempunyai tenaga batin. Ketertiban adalah mengirit waktu. Siapa yang dapat mengirit waktu akan mempunyai waktu yang terulang yang dapat dipergunakan untuk lain pekerjaan. Hasil pekerjaan oleh karenanya melebihi yang diharapkan. Akibat dari pada ketertiban ialah ketenangan dan ketentraman hati menghadapi tiap-tiap goda dan coba. Ketertiban didalam lahir menimbulkan ketertiban didalam batin, oleh karena tidak ada gangguan dari kekalutan dan kekacauan, hingga kita memperoleh kekuasaan dapat memusatkan pikiran kita. Siapa yang tertib didalam lahir dan batinnya, dengan sendirinya memperoleh tenaga ghaib yang terbukti didalam hasil pekerjaannya yang memuaskan dan mena’jubkan.

HAKIKAT BERDIRI, RUKUK, SUJUD, DAN DUDUK
DALAM SHALAT

  1. BERDIRI DALAM SHALAT
Maksudnya tegaknya berasal dari Api, tapi bukan api seperti sekam, bukan pula api yang menyala lalu mati, tetapi api yang mempunyai 4 (empat) sifat /hal, Yaitu : Roh Ilafi, Roh Rahmani, Roh Nurani dan Roh Rahmani. Ke 4 hal itu mulia, merupakan cahaya kudus. Kudus adalah benih keberuntungan, keberuntungan itu benih nasibmu, yang menjadikan kepastian nasibmu adalah Shalat-mu.
  1. RUKUK DALAM SHALAT
Rukuk berasal dari Angin, tapi bukan angin topan, bukan pula angin yang mendesau-desau. Tetapi angin yang mempunyai 4 (empat) hal, Yaitu : Nafas, Anfas, Tanafas, dan Nufus. Nufus adalah benih Ruhyat, adapun rukhyat adalah benih hidup. Adapun yang hidup itu adalah Shalat-mu itu.
  1. SUJUD DALAM SHALAT
Sujud berasal dari Air, tapi bukan air kali, bukan pula air sumur atau air telaga yang dapat surut atau banjir. Adapun air yang dimaksud adalah yang mempunyai 4 (empat) hal, Yaitu : Roh Rabbani, Roh Nabati, Roh Hewani, dan Roh Jasmani. Roh Jasmani itu berbenih 7 (tujuh) martabat, adapun martabat itu berbenih yang menghasilkan Shalat-mu itu.
  1. DUDUK DALAM SHALAT
Duduk berasal dari Bumi (Tanah), tapi bukan bumi tempat berpijak, bukan pula bumi yang menonjol. Tetapi bumi yang mempunyai 4 (empat) hal, keempat hal tersebut itu adalah : Wadi, Madi, Mani, dan Manikam. Manikam adalah asal dari Ajal. Adapun Ajal itu adalah benih keabadian yang tidak berubah, Adapun yang abadi itu adalah nilai dari Shalat-mu itu.

Selalu rindulah akan shalat, raihlah iman, tauhid dan ma’rifat Islam melalui shalat. Adapun mengenai tertibnya pelaksanaan saat Berdiri, saat Duduk. Yang disebut Rukuk adalah asal dari Angin berasal dari angin. Kehidupan ini berasal dari bumi yang dimaksud dengan Duduk. Adapun yang dimaksud dengan Takbir adalah Ma’rifat yang sempurna, memperoleh air itulah yang dimaksud dengan syariat yang sesungguhnya. Kesuciannya itu tidak berubah tempat dan tidak bercampur dengan apapun, saat ia memusatkan hati pada Yang Maha Agung yaitu dalam posisi duduk. Hakikat duduk yaitu menginginkan kehalusan pandangan, tidak berubah dalam rasa.
Adapun arti Islam itu supaya sempurna adalah dengan mengikuti petunjuk Rohani-mu, karena itulah hati orang mukmin yang lebih. Seorang mukmin yang mulia adalah yang tidak putus sembahyangnya. Adapun hati yang terang, yang hendak menjelma yang dapat mematikan pada badan, yang selalu dicuci pasti akan diberi hati yang terang oleh Allah Yang Maha Agung.

ADAPUN GERAKAN SHALAT ITU MERUPAKAN WUJUD ( ﺍﷲ )

  1. Huruf Alif Mutakalimun Wahid ()
Wujud tegak berdiri, yang mengisyaratkan asal dari Api, Nafsunya Amarah. Api menjadi Darah pada kita. Tempat terjadinya berasal dari sifat Allah yang bernama AL-AJIM = Kebesaran Allah.
  1. Huruf Lam Ta bengil ( )
Wujud Rukuk, yang mengisyaratkan asal dari Angin, Nafsunya Mutmainah. Angin menjadi Urat pada kita. Tempat terjadinya berasal dari sifat Allah yang bernama AL-QOWIYU = Keperkasaan Allah.
  1. Huruf Lam Jaidah ( )
Wujud Sujud, yang mengisyaratkan asal dari Air, Nafsunya Sawiyah. Air menjadi Tulang pada kita. Tempat terjadinya berasal dari sifat Allah yang bernama AL-MUHYI = Kekuatan Allah (Yang Maha Menghidupkan)
  1. Huruf He Hu-ahad ( )
Wujud Duduk, yang mengisyaratkan asal dari Tanah, Nafsunya Lawwamah. Tanah menjadi Daging pada kita. Tempat terjadinya berasal dari sifat Allah yang bernama AL-HAKIM = Yang Maha Kokoh.




TA'QIB SHALAT DAN DO'A


TA’QIBAT KHUSUS
Dzikir dan Do’a setelah Shalat


  1. Taqib Shalat Zhuhur

LAA ILLAHA ILALLAHUL A’DHIMUL HALIM LAA ILAHA ILLALLAHU ROBBUL ARSYIL KARIM, ALHAMDULILLAHI ROBBIL A’LAMIN.
ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA MUJIBATI RAHMATIKA WA AZ’IMA MAGHFIROTIKA WAL GHONI’MATA MIN KULLI BIRIN WASSALAMATA MIN KULLI ISYM.
ALLAHUMMA LAA TADA A’LI DZABAAN ILLA GHAFARTAHU WALA HAMMAN ILLA FARRAJTAHU WALA SUQMAN ILLA SYAFAYTAHU WALA A’YIBAN ILLA SATARTAHU WALAA RIZQON ILLA BASATHTAHU WALA KHAUFAN ILLA MANTAHU WALAA SUU’AN ILLA SHOROFTAHU WALAA HAAJATAN HIYA LAKA RIDHOON WALIYA FIIHA SHOLAHUN ILLA QODHOYITAHAA YAA ARHAMA RROHIMIN AMIN ROBBAL A’LAMIN.

Artinya :
Tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Agung dan Maha Santun. Tiada Tuhan kecuali Allah, Tuhan arsy yang mulia. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam.
Ya Allah aku mohon kepada-Mu curahan rahmat-Mu, kepastian ampunan-Mu dan limpahan dari semua kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa.
Ya Allah, jangan biarkan dosaku kecuali Kau ampuni, dukaku kecuali Kau bahagiakan, penyakitku kecuali Kau sembuhkan, aibku kecuali Kau tutupi, rizkiku kecuali Kau curahkan, ketakutanku kecuali Kau amankan, keburukanku kecuali Kau hapuskan. Dan jangan biarkan hajatku yang Engkau ridhai dan membawa maslahat bagiku kecuali Kau penuhi, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi, amin ya Robbal ‘alamin.
BILLAHI ’ TA SHOMTU WA BILLAHI A’SYIKU WA ALALLAHI ATTAWAKKALU

Artinya :
Aku berpegang teguh dengan Allah, aku yakin kepada Allah, dan aku bertawakal kepada Allah.

ALLAHUMMA IN A’DHUMAT DZUNUBI FA AN’TA A’DHUMU WA IN KABURO TAFRITHI FA ANTA AKBARU WA INDAMA BUKHLI FA ANTA AJWADU. ALLAHUMMAGHFIRLI A’DHIMA DZUNUBI BI A’DHIMI AFWIKA WAKASYIRO TAFRIYTHI BI DHOHIRI KARAMIKA WAQMA’ BUKHLI BIFADHLI JUDIKA. ALLAHUMMA MAA BINAA MIN NI’MATIN FAMINKA LAA ILAHAA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIKA

Artinya :
Ya Allah jika dosaku besar Engkau Maha Besar, jika keterlaluanku besar Engkau Maha Besar , jika kebakhilanku berkelanjutan Engkau Maha Dermawan. Ya Allah, ampuni dosaku yang besar dengan kebesaran maaf-Mu, banyaknya keterlaluanku dengan nampaknya kemuliaan-Mu, kalahkan kebakhilanku dengan curahan kedermawanan-Mu. Ya Allah, apa saja nikmat yang kudapatkan semuanya dari-Mu, tiada Tuhan kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.
  1. Ta’qib Shalat Ashar

ASTAGHFIRULLAHALLADZI LAA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QOYYUM ARRAHMANURRAHIM DZULJALALI WAL I’KRAM.
WA AS’LUHU AN’YATUBA ALA TAUBATA ABDIN DZAYILIN KHADI’IN FAQIRIN BI’ISIN MISKIN MUSTAJIRIN LAA YAMLIKU LINAFSIHI NAF’AN WALA DHORRON WALA MAUTAN WALA HAYATAN WALA NUSYURON.
Artinya :
Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Tiada tuhan selain Dia, yang Maha Hidup dan Menghidupkan, yang Maha Kasih lagi Mahasayang, yang Maha Tinggi dan Mulia. Aku bertaubat kepada-Nya seperti taubat seorang hamba yang hina, lemah dan fakir, sengsara miskin dan papa, yang dirinya tidak dapat memiliki manfa’at dan mudharat, kematian dan kehidupan serta kebangkitan kembali.

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN NAFSIN LAA TASYBA’U WAMIN QOLBI LAA YAKHSYA’U WAMIN ILMIN LAA YANFA’U WAMIN SHOLATIN LAA TURFA’U WAMIN DUU’IN LAA YUSMA’U. ALLAHUMMA INNI AS’ALUKAL YUSRO BA’DAL U’SRI WAL FAROJA BA’DAL KARBI WARROJAA’A BA’DA SSYADATI. ALLAHUMMA MAA BINAA MIN NI’MATIN FAMINKA LAA ILAHAA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIKA

Artinya :
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jiwa yang tidak pernah kenyang, hati yang tidak khusyu’, ilmu yang tidak bermanfa’at, shalat yang tidak diterima, dan do’a yang tidak didengar. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kemudahan setelah kesulitan, kebahagiaan setelah kesusahan, kesempatan setelah kesempitan. Ya Allah, apa saja nikmat yang kami dapatkan semuanya dari-Mu, tiada Tuhan kecuali Allah, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.

  1. Ta’qib Shalat Maghrib

INNALLAHA WAMALA’IKATU YUSHALLUUNA ALANNABI YA AYUHALLADZINA AMANUU SHOLLU A’LAIHI WA SALLAMU TASLIMAAN. ALLAHUMMA SHOLLI ALLA MUHAMMADIN NNABIYI WA ALA DZURRIYATIHI WA ALA AHLI BAITIHI.
Artinya :
Sessungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi saw ; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam dengan salam yang sebenarnya. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad, keturunan dan ahlul baitnya.

BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM LAA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI A’LIYYIL A’DHIM 7X

Artinya :
Atas nama Allah Sumber rahmat pemancar kasih sayang. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. (7 X )

ALHAMDULILLAHI LADZI YAF’ALU MAA YASYAA’A WALA YAF’ALU MAA YASYAA’U GHAIRUHU.

Artinya :
Segala puji bagi Allah yang melakukan apa yang dikehendaki dan tidak melakukan apa yang dikehendaki selain-Nya.

SUBHAANAKA LAA ILAHA ILLA ANTA IGHFIRLI DZUNUUBI KULLAHAA JAMI’AAN FA INNAHU LAA YAGHFIRU DZUNUUBA KALLAHAA JAMI’AAN ILLA ANTA

Artinya :
Maha Suci Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau, ampuni semua dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni semua dosa kecuali Engkau.

ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA BIWAJHIKAL KARIM WA ISMIKAL A’DHIM WA MULKIKAL QODIM AN’TUSHOLLIYA ALA MUHAMMADIN WA ALIHI WA ANTAGHFIRULI DZANBIL A’DHIM INNAHU LAA YAGHFIRUL A’DHIMA ILLAL A’DHIM.
Artinya :
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu melalui wajah-Mu yang Maha Mulia, dan melalui nama-Mu yang Agung dan melalui Kekuasaan-Mu yang terdahulu (ada sebelum adanya sesuatu). Hendaklah Engkau limpahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, agar Engkau mengampuni dosaku yang besar karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa yang besar kecuali Allah yang Maha Agung. (3 X )

MAA SYAA’ALLAHU LAA QUWWTA ILLA BILLAHI ASTAGHFIRULLOH 3 X

Artinya :
Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, tidak ada kekuatan kecuali bersama Allah, aku mohon ampun kepada Allah. (3 X)

ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA MUJIBAATI RAHMATIKA WA AZ’IM MAGHFIRATIKA WANNAJAATA MINANNAR WAMIN KULLI BALIYYATIN WAL FAWZA BIJANNATI WARRIDHONI FI DARISSALAM WAJWIRI NABIYYIKA MUHAMMADIN A’LAIHI WA ALIHISSALAM ALLAHUMMA MAA BINAA MIN NI’MATIN FAMINKA LAA ILAHAA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIKA

Artinya :
Ya Allah aku mohon kepastian rahmat-Mu, dan kemestian ampunan-Mu, keselamatan dari neraka dan keselamatan dari segala bencana, dan kebahagiaan dengan syurga dan keridhoan dengan “Darul al Salam” (Syurga) dan berdampingan dengan Nabi Muhammad Saw. Ya Allah, apa saja nikmat yang aku rasakan maka itu dari pada-Mu, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

  1. Ta’qib Shalat Isya

ALLAHUMMA INNAHU LAISALI ILMUN BI MAWDHI’I RIZQI WA INNAMAA A’THLUBUHU BI KHATHORTIN TAKHTHURU ALA QOLBI FA’AJULU FI THOLABIHI BUDNA FA’ANAA FIYMAA AN’THOLIBUN KAA HAIRNI LAA A’DRIYA A’FI SAHLIN HUWA AM’FI JABALIN AM’FI ARDHIN AM’FI SAMAA’IN AM’FI BARAN AM’FI BAHRIN WA ALA YADAYA MAN WAMIN QIBALI MAN WAQOD A’LIMTU A’NNA I’LMAHU I’NDAKA WA A’SBAABAHU BIYADIKA WA AN’TA LLADZIYA TAQSIMUHU BILUTHFIKA WA TUSABBABUHU BIRAHMATIKA.
ALLAHUMMA FASHOLLI ALA MUHAMMADIN WA ALIHI WAJ’AL YA ROBBA RIZQOKALI WASI’AAN WA MATHLABAHU SAHLAN WA MAA KHODZAHU QORIBAAN WALAA TU’NANNI BI THOLABI MAA LAM TUQODDARLI FIHI RIZQON FAI’NNAKA GHONNIYUN AN A’DZBI WA AN’FAQIRUN ILA RAHMATIKA FASHOLLI ALA MUHAMMADIN WA ALIHI WAJUD ALA ABDIKA BIFADHLIKA INNAKA DZUFADHLIN A’DHIMIN.

Artinya :
Ya Allah, sungguh aku tidak tahu dimana rizkiku. Aku mencarinya dengan menduga-duga di dalam hati, lalu aku mengejarnya di setiap penjuru negeri. Aku tak ubahnya seperti orang yang kebingungan, tidak tahu apakah berada dalam kemudahan, di gunung, di bumi, di langit, didaratan atau di lautan. Aku tidak tahu berada di tangan siapa atau dihadapan siapa. Sementara aku tahu bahwa ilmunya ada disisi-Mu dan sebab-sebabnya ada ditangan-Mu. Engkaulah yang membagikan rizki dengan karunia-Mu dan menyebabkan datangnya rizki dengan rahmat-Mu.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasululloh dan keluarganya, dan jadikan bagiku ya Robbi keluasan rizki dari sisi-Mu, kemudahan dalam mencarinya, kedekatan dalam memperolehnya. Jangan biarkan aku mencari rizki yang tidak ditakdirkan bagiku, Engkau Maha Kaya dari menyiksaku, aku membutuhkan rahmat-Mu. Sampaikan shalawat kepada Rasululloh dan keluarganya, dan anugerahkan kedermawanan-Mu pada hamba-Mu dengan karunia-Mu, sesungguhnya Engkaulah Yang memiliki karunia yang agung.
  1. Ta’qib Shalat Subuh

BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMADIN WA ALI MUHAMMADIN WAHDINI LIMAAKHTULIFA FIIHI MINALHAQQI BIIDZNIKA INNAKA TAHDII MINTASYAA’U ILA SHIROTHIM MUSTAQIMIN

Artinya :
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan tunjuki aku dengan izin-Mu kebenaran dalam sesuatu yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk ke jalan yang benar orang yang Kau kehendaki.

ALLAHUMMA SHALLI ALA MUHAMMADIN WA ALI MUHAMMADIN LAA’AWSHIYAA’I RRODHIINA MARDHINA BI AF’DHOLI SHOLAWATIKA WABARIK A’LAIHIM WA ALA ARWAHIHIM WA AJSAADIHIM WA RAHMATULLAHI WABARAKAATUHU. 10X

Artinya :
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, yang menerima wasiat, yang ridha dan diridhai, dengan shalawat yang paling utama. Berkahi mereka, arwah dan jasad mereka. Semoga Rahmat Allah keberkahan-Nya selalu tercurahkan kepada mereka. ( 10X )

SUBHAANALLAHIL A’DHIM WA BIHAMDIHI WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL A’LIYYIL A’DDHIM. 10 X

Artinya :
Maha Suci Allah yang Agung, dengan mengakui ketuhanan-Nya tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. (10 X).

BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM LAA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL A’LIYYIL A’DDHIM. 7 X

Artinya :
Atas nama Allah sumber rahmat, pemancar kasih sayang. Tidak ada daya dan upaya kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. (7 X).

YAA FATTAHU 70 X

Artinya :
Ya Allah yang Maha Membukakan pertolongan rezeki. (70 X)

LAA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI TAWAKKALTU ALAL HAYYA LLADZII LAA YAMUUTU WAL HAMDULILLAHI LLADZI LAMYATTAKHIDZ WALADAN WALAM YAKUN LAHU SYARIIKUN FII MULKI WALAM YAKUN LAHU WALIYYAN MINADDZULLAN WA KABBARHU TAKBIRAN.

Artinya :
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah, saya bertawakal kepada Allah Yang Maha Hidup tidak mati. Ketuhanan itu milik Allah yang tidak memiliki anak dan tidak ada sekutu pada kerajaannya dan tidak ada pelindung yang dapat menghinakan-Nya maka bertakbirlah sebenar-benarnya takbir.

A’UWDZU BILLAHISSAMI’IL A’LIM MIN HAMAZATI SSYAYAATHIN WA A’UWDZU BILLAHI AN’YAHDHURUN INNALLAHA HUWA SSAMI’UL A’LIM.

Artinya :
Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui dari godaan bisikan setan-setan dan aku berlindung kepada Allah dari hadirnya setan-setan itu, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

SUBHAANALLAHI WALHAMDULILLAHI WALAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR. 10 X

Artinya :
Maha Suci Allah dan Ketuhanan itu milik Allah dan tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan Allah itu Maha Agung. (10X)

  • KHUSUS DO’A TAHAJUD

ROBBI ADKHILNI MUDKHALA SHIDQIN WA AKHRIJNI MUKHROJA SHIDQIN WA AJ’ALNI MIN LADUNKA SULTHONAN NNASHIRON.

Artinya :
Ya Tuhanku masukkanlah aku melalui tempat masuk yang benar/baik, dan keluarkanlah aku melalui tempat keluar yang benar. Dan jadikanlah bagiku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong. ( Q.S. Al-Isra 17 : 80 )

  • KHUSUS DO’A HIDAYAH

BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM
Dengan Asma Allah yang Maha kasih dan Maha sayang
ALLAHUMMARZUQNA TAWFIQ TTHOA’TI WA BU’DA MA’SHIYYATI WA SHIDQONNIYYATI.
Ya Allah karuniakanlah pada kami kemudahan untuk taat menjauhi maksiat dan ketulusan niat.
WA A’RIFANAL HURMATI WA AKRIMNAA BIL-HUDA WAL ISTIQOMAH
Dan mengetahui kemuliaan dan Muliakan kami dengan Hidayah dan istiqomah
WASADDAD A’L-SINATANA BI SHAWAABI WAL HIKMAH
Luruskanlah lidah kami dengan kebenaran dan hikmah
WAM LA’U QULUBANA BI ILMI WAL MA’RIFAT
Penuhilah hati kami dengan ilmu dan makrifat
WA THOHHAR BUTHUNANAA MINAL HARAMI WA SYUBHAT
Bersihkan perut kami dari yang haram dan subhat
WAKFUF AYIDINAA ANI DDHULMI WA SSYARIQOT
Tahan tangan kami dari kezaliman dan pencurian
WAGHDHUDH ABSHORONAA ANIL FUJUURI WA KHIYANAT
Tundukan pandangan kami dari kemaksiatan dan penghianatan
WASDUD ASMAA ‘ANAA ANIL LAGHWI WAL GHIBAH
Palingkan kami pendengaran kami dari ucapan yang sia-sia dan umpatan
WATAFADDHOL ALA U’LAMAA ‘INAA ANIZZUHDI WAN NASHIHAT
Karuniakan pada ulama kami kezuhudan dan nasihat
WA ALA MU’ALLIMINA BIL JUHDI WAR ROGHBATI
Para pelajar kesungguhan dan semangat
WA ALA MUSTAMI’INA BIL I’ TIBAA’I WAL MAW’IDHATI
Para pendengar kepatuhan dan kesadaran
WA ALA MARDHO MUSLIMINA BI SYIFAA’I WA RROHATI
Pada kaum muslimin yang sakit, kesembuhan dan ketenangan
WA ALA MAWTAHUM BIRROFATI WA RRAHMAT
Pada kaum muslimin yang meninggal mendapat kasih sayang dan rahmat
WA ALA MASYAAYIKHINAA BIL WAQOORI WA SSAKINAH
Pada orang-orang tua kami kehormatan dan ketentraman
WA ALA SYABAABI BIL I’NAABATI WAT-TAUBAT
Para pemuda kembali pada jalan Allah dan taubat
WA ALA NNASAA’I BIL HAYAA’I WAL I’FFATI
Pada para wanita menjaga rasa malu dan kesucian
WA ALAL A’GHNIYAA’I BIT-TAWADHU’I WA SSA’ATI
Pada orang-orang kaya rendah hati dan kemurahan
WA ALA FUQARO ’ I BISSHOBRI WAL QONAA’AH
Pada orang-orang miskin kesadaran dan kecukupan
WA ALA GHUZAATI BINNASHRI WAL GHALABATI
Pada para pejuang kemenangan dan penaklukan
WA ALA U ’SAROO’I BIL KHALASHI WARROHATI
Pada para tawanan kebebasan dan ketenangan
WA ALAL U’MAROO’I BIL A’DLI WASSYAFAQOTI
Pada para pemimpin keadilan dan rasa sayang
WA ALA RO’ IYYATI BI INSHAAFI WA HUSNI SSAYIROH
Pada seluruh rakyat kejujuran dan kebaikan akhlak
WA BARIK LIHUJJAAJI WAZZUWWARI BIZZADI WANNAFAQOH
Berkatilah para jemaah haji dan para penziarah dalam bekal dan nafkah
WAQDHIMAA AW’JABTA A’LAIHI MINAL HAJJI WAL UMROH
Sempurnakan haji dan umroh yang engkau tetapkan bagi mereka
BIFADHLIKA WARAHMATIKA YA ARHAMA ROHIMIN
Dengan karunia dan rahmatmu. Wahai yang paling pengasih dari semua yang mengasihi





DOA AL-TAHAQQUQ BI MA’RIFATILLAH
Do’a Pemantapan Makrifatullah

ALLAHUMMA UKHRUJU MIN QOLBI KULLI QODRIN LIDUNYAA, WAKULLI MAHALLU LILHAQ, YAMIIUBI ILA MA’SYIATIKA, AWYUSGHILNI AN THOOA’TIKA, AW YAHULU BAINI WABAINA AL-TAHAQQUQ BI MA’RIFATIKA KHOSHSHOH, WA MAHABBATIKA KHOLISHOH WASHOLALLAHU ALA MUHAMMADIN WA ALA ALIHI WA SHOHBIHI WASALLAM WAL HAMDULILLAHI ROBBIL AA’LAMIN.

Artinya :
Ya Allah, keluarkanlah dari hatiku segala ketamakan kepada dunia, dan segala ketergantungan kepada selain Engkau, yang akan mendorong aku kepada kemaksiatan, atau yang menyibukkan aku sehingga tidak taat kepada-Mu, atau memalingkan aku dari “ Ber-Tahaqquq (Pemantapan makrifat kepadaMu secara khusus) dan ber-Tahaqquq (Pemantapan mencintai Engkau yang murni. WASHOLALLAHU ALA MUHAMMADIN WA ALA ALIHI WA SHOHBIHI WASALLAM WAL HAMDULILLAHI ROBBIL AA’LAMIN.


YA ROBBI BIHAQQIN HADZIHIL AAYAATI AJIB DU’AAII YAA ARHAMA RRAAHIMIIN
Artinya :
Wahai Tuhan kami, dengan benarnya ayat ini perkenankanlah do’a-ku, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

DO’A MAHABAH

ALLAHUMMA NAWIR ZHAAHIRII BI THAA’ATIKA WA BATINI BI MAHABBATIKA WA QOLBI BI MA’RIFATIKA WA RUUHII BI MUSYAHADATIKA WA SIRRI BI ISTIQLALI’ ITTISHAALI HADRATIKA YAA DJAAL JALAALI WAL IKRAM
Artinya :
Ya Allah terangilah tubuhku dengan ketaatan kepadamu, dan jiwaku dengan cinta kepadamu. Hatiku dengan pengetahuan langsung tentang dirimu. Ruh-ku dengan menatap dekat kepadaMu. Dzat-ku (rasaku) dengan kemampuan mencapai singgasanamu. Wahai Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

DO’A PEPADANG ( NURULLOH )

ALLAHUMAJ’AL FII AQLI [AKAL] WAL FIKRI [PIKIRAN] NUURO, WA FII QOLBI (HATI) NUURO, WA FII QOBRI (KUBUR) NUURO, WA FII SAM’II (PENDENGARAN) NUURO, WA FII BASHARI (PENGLIHATAN) NUURO, WA AN-YAMIINII (KANAN) NUURO, WA AN-SYIMAALII (KIRI) NUURO, WA MIN AMAAMII (DEPAN) NUURO, WA MIN KHALFII (BELAKANG) NUURO, WA MIN FAUQII (ATAS) NUURO, WA MIN TAHTII (BAWAH) NUURO, WA MIN A’SHABII (URAT) NUURO, WA FII BASYARI (KULIT) NUURO, WA FII DAMII (DARAH) NUURO, WA FII LAHMI (DAGING) NUURO, WA FII IDHAMII (TULANG) NUURO, WA FII SYA’RII (RAMBUT) NUURO, WA FII LISANI (LIDAH) NUURO, WA FII YADII (TANGAN) NUURO, WA FII RIJLII (KAKI) NUURO, WA JAMI’A JAWAARIHII (SEMUA ANGGOTA TUBUH) NUU RO. YA NURUL ANWAR.
Artinya :
Ya Alloh semoga Engkau sinarkan cahaya Nur-Mu dalam akal dan pikiranku, dan dalam hatiku, dan dalam kuburku, begitu pula pada pendengaranku, pada mataku, pada kananku, pada kiriku, pada depanku, pada belakangku, pada atasku, pada bawahku, pada urat nadiku, pada kulitku, pada darahku, pada dagingku, pada tulangku, pada rambutku, pada lidahku, pada tanganku, pada kakiku, dan semua anggota badanku. Wahai cahaya di atas cahaya.